Publikasi Dosen FUAH

Majelis Luhur Kepercayaan Daerah Istimewa Yogyakarta:Dan Tantangan Inklusi Dua Arah

Affaf Mujahidah, M.A.

Sampul depan buku Majelis Luhur Kepercayaan Daerah Istimewa Yogyakarta: Dan Tantangan Inklusi Dua Arah.

Dengan diterapkannya Putusan Mahkamah Konstitusi bukan berarti masalah yang dihadapi oleh kelompok penghayat menemui solusi yang konklusif terhadap hak-hak mereka sebagai warga negara. Putusan tersebut menjadi titik awal perjuangan yang harus dihadapi oleh kelompok penghayat kepercayaan, baik secara institusional maupun individual. Secara institusional, Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI) menjadi salah satu organisasi yang dapat menjadi jembatan antara negara dan penghayat kepercayaan. Pembentukan MLKI diawali dengan diadakannya Kongres Nasional Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Komunitas Adat dan Tradisi yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kongres yang berlangsung pada tanggal 25 hingga 28 November 2012 tersebut dihadiri oleh 750 orang peserta yang terdiri dari perwakilan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta Komunitas Adat dan Tradisi dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Sebagai tindak lanjut dari kongres tersebut, Direktorat Pembinaan Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa membentuk tim persiapan pembentukan wadah nasional yang kemudian terimplementasi dengan lahirnya Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia pada tanggal 13 Oktober 2014 (mlki.or.id, 2017).

Perbedaan sikap dari penghayat kepercayaan dalam merespon Putusan Mahkamah Konstitusi menimbulkan dikotomi baru dalam internal penghayat, yakni penghayat “murni” dan penghayat “beragama”. Terminologi penghayat “murni” merujuk pada kelompok penghayat yang dengan penuh antusias mengganti kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk mereka dengan kolom kepercayaan. Berseberang posisi dengan kelompok ini, penghayat “beragama” merupakan kelompok yang menyakini bahwa aspek kepenghayatan dapat bersanding harmonis dengan keberagamaan sehingga tidak diperlukan perubahan identitas selama praktek dari keduanya masih bisa dilakukan secara sejajar. Di luar dari dua kelompok yang saling berseberangan, kelompok penghayat personal memilih posisi yang tidak terikat dalam kelompok paguyuban manapun sehingga dapat mempraktekkan kepenghayatan mereka secara independen.

MLKI sebagai organisasi yang menaungi penghayat kepercayaan berupaya untuk merangkul ketiga kelompok yang muncul sebagai respon dari putusan mahkamah konstitusi dan surat edaran kementerian dalam negeri. Upaya yang dilakukan diwujudkan dalam program MLKI sebagai “rumah bersama” dengan mengaplikasikan inklusi sosial dua arah, yakni secara internal dan eksternal. Penerapan inklusi sosial dua arah tersebut menjadi fokus utama penelitian ini dengan menganalisis proses inklusi yang dilakukan oleh MLKI serta tantangan yang muncul dalam proses tersebut.

Untuk mendapatkan buku tersebut, silakan klik di sini.

Menara Kudus: Riwayat Sebuah Penerbit

Jamaluddin, M.A.

Sampul depan buku Menara Kudus: Riwayat Sebuah Penerbit

Teknologi cetak telah digunakan oleh kalangan Islam Tradisionalis sejak pertengahan abad ke-19. Persentuhan masyarakat muslim dengan teknologi cetak membawa mereka pada kegiatan yang menjadikan tradisi keilmuan sebagai barang yang kemudian dicetak dan diperjualbelikan (komoditas), atau mengalami proses komodifikasi.

Munculnya kiai-kiai penulis kitab tahun 1950-an mengakibatkan peningkatan jumlah penerbitan kitab pegon yang cukup signifikan dibanding periode sebelumnya. Salah satu penerbit yang ikut memfasilitasi penerbitan kitab-kitab tersebut Penerbit Menara Kudus yang didirikan oleh Zjainuri Noor pada tahun 1952.

Aktifnya Penerbit Menara Kudus dalam menerbitkan kitab-kitab karya kiai pesantren menjadikannya turut serta dalam menjaga kesinambungan lembaga-lembaga pendidikan Islam Tradisionalis ini. Selain itu, Menara Kudus juga meneguhkan ajaran-ajaran Islam Tradisionalis di tengah-tengah umat Islam di Indonesia yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh orang-orang yang berada di dalam ketiga lembaga pendidikan Islam Tradisionalis.

Metode Pembelajaran Ta’riji: Cara Praktis Menulis, Berbahasa, dan Membaca Kitab-Kitab Arab

Tarto Sobinji, Lc., M.Hum.

Sampul Depan Metode Pembelajaran Ta’riji: Cara Praktis Menulis, Berbahasa, dan Membaca Kitab-Kitab Arab

Buku ini adalah modul pembelajaran bahasa Arab metode Ta’riji: cara simpel berbahasa Arab lisan, tulisan dan membaca buku-buku Arab, yang isinya disarikan dari beberapa kitab dan buku ilmu bahasa Arab masa lampau dan masa kini. Buku ini disusun dalam kemasan yang simpel, praktis, dan mengandung banyak latihan. Pembelajaran buku ini terasa hasilnya jika dilakukan dengan tutor (pembimbing) dari Manhaj Ta’riji. Pembelajaran metode ini sangat baik diikuti oleh pembelajar yang memiliki minat dan keinginan tinggi. Buku level 1 jilid 2 ini membidik kompetensi dasar kemampuan berbicara deskripstif, yakni mendeskripsikan benda dan segala yang berkaitan dengannya, dengan kunci tidak menggunakan satupun kata kerja, dan kemampaun berbincang sederhana namun spontan. Dengan target kompetensi tersebut, pembelajar diarahkan agar sejak awal telah memiliki bekal untuk berkomunikasi dengan durasi dan muatan yang sederhana namun mudah dipraktekkan.

Untuk mendapatkan modul secara lengkap, silakan klik di sini.

Hermeneutika Inklusif : Mengatasi Problematika Bacaan Dan Cara-Cara Pentakwilan Atas Diskursus Keagamaan

Prof. Dr. Phil. H.M Nur Kholis Setiyawan, M.A.

Sampul Depan Buku Hermeneutika Inklusif

Al-Qur’an adalah “karya keagamaan”, kitab petunjuk, seperti yang pernah dikatakan Abduh. Tetapi bagaimana kita bisa mencapai petunjuk itu? Bagaimana kita seharusnya memahami teks, agar petunjuk itu bisa diraih? Kita harus “mentafsirkan bahwa Al-Qur’an adalah pesan Tuhan yang memiliki kode dan “saluran”, yakni berupa bahasa Arab. Untuk meretas kode yang digunakan, saya membutuhkan analisis teks yang lebih dari sekedar disiplin filologi. Analisis ini menempatkan Al-Qur’an sebagai teks poetik yang terstruktur. Oleh karenanya al-Qur’an tidak masuk kategori teks puisi, sebaliknya ia tetap sebagai teks keagamaan yang memiliki banyak fungsi.

Tulisan Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A dapat diunduh di sini

Mempertemukan Kajian Al-Qur’an dan Ilmu Humaniora

Prof. Dr. Phil. H.M Nur Kholis Setiyawan, M.A.

Sampun Depan

Tulisan ini bermaksud memberikan ilustrasi akan keberadaan ilmu humaniora yang tentunya senantiasa berkembang selaras dengan berkembangnya teori pengetahuan, Erkenntnisstheorie. Konsekwensinya, disiplin ini tidak pernah kenal henti. Pada saat yang sama, teks keagamaan banyak disikapi sebagai teks yang terbatas, atau meminjam Arkoun sebagai corpus tertutup. Dari sini kemudian muncul praduga, akankah teks keagamaan yang sedemikian “tertutup” bisa menjadi obyek dari ilmu-ilmu humaniora yang senantiasa berubah dan berkembang. Pembahasan dalam tulisan ini akan diawali “lika-liku” sarjana kontemporer dalam mengaplikasikan disiplin humaniora, dilanjutkan dengan pencarian akar-akar disiplin tersebut dalam khazanah turath. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan data historis yang memadai yang bisa digunakan untuk menilai resistensi banyak kelompok “tekstualis”, apakah mereka memiliki pijakan ataukah sekedar emosional yang ahistoris.

Tulisan Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A dapat diunduh di sini

Anti-Semitism in Indonesia: A Simplification of a Multi-Faced Islam

Prof. Dr. Phil. H.M Nur Kholis Setiyawan, M.A.

In Orientierungen 2/2006 Fritz Schulze published an article about anti-Semitism in Indonesia (SCHULZE 2006). The article is aimed at showing that anti-Semitism paradoxically exists in the most populous Muslim country with hardly any Jewish inhabitants. The way Schulze explores sources and publications on the subject is quite appropriate. By looking at the publications, ranging from statements in mass-media, articles and books, it seems that the reality of what that Schulze concluded in his article cannot be denied. Moreover, the existence of anti-Semitism, according to Schulze, is not only disseminated by small groups, on the contrary, it is propagated by several organizations in whose campaign several Indonesian Muslim intellectuals have taken part.

Tulisan Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, M.A dapat diunduh di sini

https://www.instagram.com/fuah.iainpurwokerto/