KKN sebagai Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Arif Hidayat
(Penulis adalah Dosen IAIN Purwokerto dan DPL KKN 46)

Dalam Buku Panduan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka disebutkan bahwa Membangun Desa/Kuliah Kerja Nyata Tematik menjadi salah satu bentuk kegiatan merdeka belajar. Bentuk kegiatan pembelajaran model KKN itu justru cocok diterapkan di tengah situasi pandemi Covid-19.

Kegiatan ini sangat fleksibel dengan mengabdi kepada desa masing-masing yang membutuhkan gerakan hati nurani bagi kemanusiaan secara mandiri. Pola kegiatannya disesuaikan dengan keadaan desa, masalah di desa, dan kompetensi yang dimiliki mahasiswa melalui identifikasi, analisis potensi dan peluang.

Sejak tahun 1976/1977, kegiatan Kuliah Kerja Nyata telah ada di dalam kurikulum di semua perguruan tinggi. Kegiatan ini dimaksudkan agar mahasiswa mampu menghadapi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat secara langsung dengan tinggal di tempat tersebut dalam jangka waktu tertentu. Di satu sisi, mahasiswa berlatih menerapkan teori yang telah diketahui, di sisi lain masyarakat terbantu dengan peran serta mereka sebagai problem solving. Hakikat inilah yang mampu menambah kompetensi melalui lintas keilmuan dengan semangat gotong royong dan kekeluargaan.


Dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, kegiatan KKN dilakukan di tempat masing-masing. Mahasiswa melakukan kegiatan di tempat ia tinggal pada saat itu juga, sementara proses pembimbingan, monitoring, dan penilaian dilakukan secara online. Hal ini untuk meminimalisir mobilitas sosial dari satu daerah ke daerah lainnya sehingga kegiatan aman dilakukan sesuai dengan standar protokol kesehatan.

Kemerdekaan belajar terlihat dari mahasiswa yang mampu dengan bebas mengeskpresikan keterampilan dalam berperan serta berdasarkan peluang dan potensi di desanya masing-masing. Banyak masyarakat yang butuh pendampingan, edukasi, dan pemberdayaan untuk bertahan menghadapi pandemi. Mahasiswa bebas berkerasi dan berinovasi untuk membantu memacahkan permasalahan di masyarakat berdasarkan teori-teori yang selama ini telah dipelajari. Ada pembelajaran langsung untuk stabilitas sosial di tengah pandemi.

Pertama, proses indentifikasi masalah diawali dengan mencari informasi dari Kepala Desa dan perangkatnya serta RT/RW dan tokoh masyarakat tentang masalah yang ada di desa. Kedua, proses pencarian informasi dari para tokoh masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan dan serta data-data yang menunjang pengamatan sehingga mampu menemukan beberapa aspek yang menjadi penyebab terjadinya masalah-masalah yang ada serta untuk mempermudah dalam mencarikan solusi yang dapat membantu masyarakat dalam menangani masalah.


Nyatanya, dari praktik KKN-DR yang dilakukan, desa sangat terbantu, terutama dalam hal pendidikan di tengah pandemi Covid-19. Beberapa mahasiswa memilih kegiatan untuk melakukan pendampingan belajar pada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah yang terdampak. Respons orangtua merasa bahagia karena tetangga sekitarnya ada mahasiswa KKN yang mampu menjadi fasilitator dalam belajar. Hal ini karena tidak semua orangtua mampu merespons dengan baik tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Bahkan, di beberapa plosok, banyak orangtua yang tidak memiliki smartphone atau android yang menjadi media akses belajar (pengiriman tugas dan komunikasi pembelajaran).

Mahasiswa juga secara aktif menjadi agen untuk mengkampanyekan kesehatan melalui sosialisasi bahaya virus, cara cuci tangan yang bersih, dan pelatihan pembuatan masker secara. Upaya lain dilakukan dengan pendampingan sterilisasi tempat ibadah, pendampingan operasi penertiban masker, pengecekan standarisasi pelayanan umum, serta mengarahkan skema administrasi di lembaga kemasyarakatan.

Dalam kegiatan KKN, mahasiswa juga dapat berkreasi dengan pemulihan ekonomi masayarakat bagi UMKM. Selama pandemi, hasil usaha kurang terdistribusi dengan baik. Pemulihan ekonomi dilakukan dengan pemasaran hasil usaha melalui online, dengan adanya pendampingan pada pengemasan, branding (melalui foto dan video) dan keawetan produk. Langkah ini penting dilakukan sebagai respon keadaan yang berubah sehingga menuntut perpaduan antara tradisi dan teknologi yang berubah.

Jika selama ini pendidikan menjadi menara gading yang tak tersentuh oleh tetangga sekitar, maka melalui praktik KKN dari tempat tinggal masing-masing, mahasiswa dapat memberikan kebebasan untuk peduli kepada tetangga. Mereka dapat berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan program penanggulangan pandemi, memberikan kesadaran hidup bersih, serta melatih kewirausahaan dengan tetangga sekitar. Oleh karena itu, sifat individual ala khas milenial akan memudar hingga menuju rasa solidaritas dalam gotong royong melalui tindakan pengabdian yang realistis.

Setelah kegiatan terlaksana, evaluasi dilakukan dengan melakukan obrolan-obrolan antara mahasiswa dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat. Evaluasi dilakukan unutk melakukan peninjauan kembali pada kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dan apabila menemukan suatu kendala dapat dipecahkan dan diselesaikan dengan tujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan semuanya. Dengan praktek di masyarakat secara langsung tersebut, filosofi merdeka belajar untuk pengembangan kreativitas, kampasitas, dan kebutuhan mahasiswa dapat dilakukan dengan menjalin kerjasama dan kolaborasi dari berbagai elemen.