Menolak Lupa Tradisi Adat Jawa di Tambak Negara

LAPORAN HASIL OBSERVASI

Observasi dilaksanakan pada Selasa, 2 Oktober 2018 di Tambaknegara Kecamatan Rawalo Kabupaten Banyumas  dari berbagai aspek.

  1. Latar Belakang Melakukan Observasi

Program Himpunan Mahasiswa Jurusan dari pogram studi Sejarah Peradaban Islam (HMJ SPI) mengadakan kunjungan ke Desa Tambaknegara Kecamatan Rawalo yang sedang mengadakan grebek suro dan sedekah bumi dengan penanaman  kepala kambing di Perempatan Jalan. Berdasarkan penuturan narasumber, proses penanaman kepala kambing bertujuan untuk membuang kebodohan. Salah satu filosofinya yaitu  bahwa hewan  kambing adalah makhluk yang bodoh, maka kita sebagai manusia jangan sampai memiliki sifat bodoh seperti kambing. Kami meneliti tentang  tradisi sedekah bumi dengan harapan kedepannya para generasi muda bangsa Indonesia tidak melupakan peninggalan sejarah, tradisi dan adat yang diwariskan dari nenek moyang kita di masa lampau yang harus kita hargai dan dilestarikan. Dengan demikian generasi muda tidak lupa terhadap sejarah bangsanya. Bung Karno pernah berkata “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa mengingat sejarahnya” dan “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” yang kemudian dijadikan semboyan JASMERAH.

  1. Deskripsi Tempat yang diobservasi

Tempat yang kami kunjungi dalam acara ini yaitu Dusun Kalitanjung RT 03 RW 02, Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo. Tambaknegara adalah salah satu desa di Kabupaten Banyumas yang menjunjung tinggi adat dan tradisi Jawa. Desa Tambaknegara memiliki sejarah yang beda dengan desa-desa yang lain. “Desa ini memiliki dua kutub, jika kita ingin mempelajari sejarah maka pola pikir kita harus dirubah dengan kebijaksanaan” kata Pak Budi, Ketua Paguyuban Cagar Budaya Banyumas. Ada beberapa tradisi yang biasa dilaksanakan oleh warga desa tersebut. Diantaranya yaitu acara sedekah bumi.

Pada Selasa, 2  Oktober 2018 Desa Kalitanjung melaksanakan penanaman kepala kambing di perempatan jalan, do’a bersama yang dipimpin Kyai Sunarji, dan pemotongan tumpeng di perempatan. Tradisi sedekah bumi memiliki makna yang komplek sehingga dapat dikaji melalui beberapa aspek di bawah ini:

  1. Aspek Sejarah

Desa Tambaknegara adalah desa yang memperoleh pengaruh dari 2 kerajaan, yaitu Kerajaan Demak dan Kerajaan Padjajaran. Kerajaan Demak yang menganut agama islam, dan padjajaran yang menganut ajaran Hindhu-Budha maka menjadikan desa ini memiliki dua kebudayaan yang saling berakulturasi. Kemudian, pada saat itu pula kerajaan Demak sedang gencar-gencarnya menyebarkan agama Islam

  1. Aspek Ekonomi

Berkaitan dengan perekonomian adanya ritual sedekah bumi menandakan bahwa hasil bumi yang didapatkan oleh warga desa Tambak Negara sangat melimpah. Salah satu penyebabnya karena para petani yang mulai menggunakan teknik-teknik modern pertanian sehingga menghasilkan hasil bumi yang lebih produktif. Untuk hasil padi yang di hasilkan saja, yang awalnya hanya sekitar 4 ton per panenan kini mencapai 8 ton per panenan.

  1. Aspek Budaya

Dilihat dari aspek budaya desa ini masih menganut budaya kejawen dimana kebudayaan ini adalah peninggalan dari nenek moyang yang sampai sekarang ini masih dilesatarikan oleh para warga. Bukan hanya orang tua saja yang menganut adat kejawen ini, namun para orang tua di desa mengajarkan kepada anak cucunya tentang budaya kejawen yang pada zaman sekarang sudah sangat langka dan hamper punah.

  1. Aspek Sosial

Dengan diadakannya tradisi sedekah bumi ini, para warga dituntut untuk mempunyai sikap gotong royong dalam membangun kesejahteraan desa. Dalam acara ini masyarakat berkumpul dan saling berinteraksi untuk mensukseskan acara yang telah menjadi tradisi di desa Tambak Negara setiap tahunnya.

  1. Aspek Politik

Tidak hanya warga sekitar dan tokoh sesepuh di desa tersebut, perangkat desa bahkan bupati pun ikut hadir dalam prosesi ini. Dari pemerintah desa sendiri kegiatan ini memang telah diagendakan setiap tahunnya, sebagai wujud pelestarian budaya lokal. Anggaran yang disediakan pun tidak tanggung-tanggung, 30 juta dari APBDes dikeluarkan khusus untuk kegiatan ini. Sehingga warga desa dapat tetap melaksanakan acara ini tanpa dipungut biaya.

  1. Aspek Religi

Dalam acara adat dan tradisi ini, juga tetap ada unsur keagamaannya. Diantaranya: 1.)Sebagai pra acara, diadakan sholawatan oleh grup hadroh Dusun Kalitanjung. 2.)Pada akhir acara dibacakan do’a bersama yang dipimpin oleh tokoh agama yaitu Kyai Sunarji.

  1. Tokoh-tokoh Penting yang Terlibat dalam Acara Sedekah Bumi
  2. Kepala Desa Tambaknegara: Slamet Agus
  3. Ketua Pemangku Adat : Muharto
  4. Ketua Cagar Budaya Tambaknegara : Budi
  5. Juru Kunci Adat dan Tradisi di Tambaknegara sekaligus Kyai : Kartamiarja
  6. Ahli Bahasa Satra Budaya Jawa : Suwardi
  7. Seketaris Desa : Kuat
  8. Objek Penting di Tambaknegara

Tradisi kejawen yang masih melekat pada kehidupan warga Desa Tambak Negara menjadi daya tarik tersendiri. Desa ini juga memiliki sejarah yang unik yang selama ini berusaha dilestarikan oleh warga dan Kelompok Sadar Wisata. Objek penting desa ini antara lain:

  1. Sumur Wali

Sumur Wali merupakan sumur yang konon merupakan peninggalan wali yang dipercaya oleh warga Tambaknegara dan dipercaya dapat mewujudkan keinginan orang yang mengambil dan meminumnya. Yang menarik dari sumur ini adalah airnya tak pernah habis meskipun kedalamannya hanuya sejengkal.

  1. Bale Malang

Bale Malang merupakan salah satu museum yang didalamnya ada benda peninggalan walisongo. Bale Malang ini buka pada hari senin dan kamis.

  1. Bendung Gerak Serayu

Bendung Gerak Serayu didirikan pada tahun 1972 sampai dengan 1977 membentang 50 km membelah wilayah disekitar Tambak Negara. Bendung Gerak Serayu bermakna sebagai tempat bendungan air di Tabaknegara. “Menurut ilmu Geologi, 20.000 tahun lalu kutub utara dan kutub selatan mencair, kemudian air laut meluap pulau-pulau banyak yang tenggelam. Sehingga terbentuklah Bendungan Gerak Serayu sebagai wadah air tersebut. Bendungan itu ada di Desa Tambaknegara”, Kata Pak Budi dengan bangga.

  1. Watu Kelir
  2. Pemandian Air Mineral Kalibacin
  3. Dasar Melaksanakan Sedekah Bumi

Sedekah bumi secara turun-temurun dari leluhur hingga generasi saat ini masih dilaksanakan dan menjadi warisan budaya yang tidak boleh dilupakan. Jika tidak dilakukan sama saja melanggar peraturan bahkan diistilahkan tidak menghargai adanya peraturan yang ditetapkan oleh para ketua adat dan tradisi di Desa Tambaknegara. Tradisi yang sering dilakukan di Desa Tambaknegara yaitu :

  1. Pada Bulan Suro : Suran, Sedekah Bumi
  2. Pada Bulan Mulud : Muludan
  3. Pada Bulan Sadran : Sadranan
  4. Pada Bulan Puasa   : Syukuran atau makan bersama setelah sholat tarawih     dan witir selesai
  5. Pada Bulan Besar : Qurban, bagi-bagi daging Qurban

Kami akan menguraikan sedikit tentang tradisi di bulan suro yang sedekah bumi. Sedekah bumi identik dengan penanaman kepala kambing di perempatan.  Mengapa harus diperempatan tidak ditempat yang lain ? Menurut pendapat para pengamat karena, di Perempatan adalah jalan dimana banyak orang yang melewati jalan dan banyak juga yang kecelakaan. Maka tujuannya ditanam diperempatan jalan agar selalu selamat dalam perjalnan. Sedangkan filosofi penanaman kepala kambing yaitu 1.) Hewan kambing adalah hewan yang bodoh, maka kepercayaan orang dulu dengan mengubur keburukan akan tumbuh pula kebaikan. 2.) “Kepala itu pimpinan, jika sudah tidak ada pemimpin maka tujuan rakyat harus saling bantu-mambantu, bahu-membahu, serta bekerjasama dalam musyawarah” kata Pak Suwardi. 3.)Membuat tanaman subur dan mempermudah warga untuk bercocok tanam.

  1. Sistem Keyakinan Masyarakat di Desa Tambaknegara

Faktor-faktornya antara lain sebagai berikut:

  1. Adanya Pengaruh dari Dalam

Maksudnya adalah mereka mempercayai apa yang dikatakan oleh keluarganya.Dalam setiap rumah, dominan kakek dan neneknya paham akan adat dan tradisi kejawen yang ada. Kemudian kakek dan neneknya masih menjalankan sampai sekarang. Sehingga , mereka menjadi percaya dan meyakini dengan adanya adat dan tradisi yang ada seperti Sedekah Bumi.

  1. Adanya Pengaruh dari Luar

Maksudnya adalah mereka mempercayai apa yang dikatakan oleh orang lain seperti faktor dari teman atau yang lainnya.

  1. Berdasarkan Kepercayaan dan Keyakinan Individu

Walaupun ada faktor dari luar ataupun dalam jika diri kita tidak mempercayai, kita tetap pada pendirian dan pemahaman yang kita mengerti.

  1. Kesimpulan

Sedekah Bumi dilaksanakn atas dasar turun temurun dari nenek moyang. Tradisi dan Adat ini dilaksanakan karena sudah biasa dilakukan oleh tiang sepuh di dusun Kalitanjung, Kecamatan Tambaknegara. Tradisi turun temurun ini dilaksanakn setian tahun dibulan suro. Berisi berbagai macam adat didalamnya seperti pemotongan tumpeng di perempatan jalan dan penanaman kepala kambing di perempatan jalan yang mempunyai filosofi masing-masing. Sedekah bumi jika ditinjau dari beberapa aspek yaitu aspek sejarah, aspek ekonomi, aspek budaya, aspek sosial, aspek politik, dan aspek agama. Dibalik tradisi dan adat ini, juga terdapat tokoh-tokoh legendaris yang sudah biasa melaksanakan bumi ini diantaranya yaitu Bapak Muharto (Ketua Pemangku Adat), Mbah Budi (Ketua Cagar Budaya Tambaknegara), dan Bapak Kartamiarja (Juru Kunci Adat dan Tradisi di Tambaknegara). Objek wisata yang ada di desa Tambaknegara diantaranya Sumur Wali, Bale Malang, Bendung Gerak Serayu, Watu Kelir dan Pemandian Air Mineral Kalibacin.

Leave a Reply